KECANTIKAN
PUTRI GADING CEMPAKA
MENGUNDANG PEPERANGAN
DIKERAJAAN SUNGAI
SERUT
(BANGKAHULU)
PUTRI GADING CEMPAKA
MENIKAH DENGAN PENDEKAR
NGAWAK DEWE GUMAY
M.ADHAR
CILAS,S.Pd
PUTRI GADING CEMPAKA BELAJAR KUNTAU (SILAT)
BERSAMA KE ENAM KAKAKNYA
Semula
Bengkulu adalah bagian dari Provinsi Sumatra Selatan bersama-sama dengan
Lampung dan Riau.Masyarakat bersama dengan partai politik dan masyarakat daerah
bersatu untuk memperjuangkan terwujudnya Bengkulu menjadi Provinsi maka pada
tanggal 12 September 1967 terbitlahUU RI No.9 Tahun !967 tentang Pembentukan
Provinsi Bengkulu dan PP Nomor 20 Tahun 1968 Tanggal 5 Juli 1968 tentang
berlakunya UU Nomor 9 Tahun 1967 pada masa itu Provinsi Bengkulu terdiri atas
tiga Kabupaten dan satu kota madya yakitu, Kabupaten Bengkulu Utara,Kabupaten
Bengkulu Selatan.Kabupaten Rejang Lebong dan Kota Madya Bengkulu.Jauh sebelum
menjadi Provinsi di Bengkulu terdapat Kerajaan yang bernama Kerajaan Sungai
Serut (Bangkahulu) yang dipimpin oleh seorang raja bernama Ratu Agung pada masa
itu Kerajaan Sungai Serut (Bangkahulu) masih satu wilayah dengan Sumatra
Selatan (Palembang/Pelimbang)
Dahulu kala didaerah Bengkulu terdapat kerajaan sungai
serut (Bangkahulu) yang sangat besar
yang dipimpin oleh seorang raja yang benama Ratu Agung yang dikenal bijaksana,adil
dan merakyat, Ratu Agung dikenal sangat sayang dengan putra –putrinya Ratu
Agung memiliki tujuh orang anak pertama adalah Kelemba api(Raden Cili), Raden Manuk
Mincar, Raden Lemang Batu, Raden Tajuk Rompong, Raden Rindang Papan, Raden Anak
Dalam,dan seorang putri yang terkenal dengan kecantikanya yang bernama Putri
Gading Cempaka.
kerajaan sungai serut (Bangkahulu) memiliki para
pasukan yang setia, keadaan wilayah kekuasaan sangat tentram masyarakatnya
semua hidup dengan damai. Seiring waktu berjalan anak-anak keturunan Ratu Agung
menjelang remaja pada saat Ratu Agung sedang memandang wilayah kekuasaanya dan
terlintaslah pikiran untuk memanggil ketujuh anaknya lalu Ratu Agung memerintahkan
kerabat kerajaan untuk memanggil anak-anaknya “wahai pembesarku bawalah
anak-anak ku untuk menghadapku petang ini” perintah Raja Ratu Agung baik raja
yang bijaksana,’baik yang mulia’ jawab pembesar kerajaan berangkatlah pembesar
kerajaan menemui para Raden dan Putri kerajaan Sungai Serut dan berkatalah para
pembesar kerajaan tadi “wahai Raden dan
Putri ananda semua dipanggil yang mulia Ratu Agung untuk menghadap paduka petang
ini juga” mendengan suara para pembesar kerajaan anak-anak Ratu Agung sangat
terkejut dan bertanya didalam hati ‘ada apa gerangan ayahanda memanggil kami
semua ?.
Berselang waktu para raden dan putri sampai menghadap
Raja Ratu agung dengan penuh kesopanan dan senyum di wajah mereka duduk
disamping para pembesar kerajaan sambil berkata “ada apa ayahanda memanggil
kami semua..? ucap Raden cili …Ratu Agung tersenyum dan menatap dengan penuh
kasih sayang kepada anak-anaknya lalu berkata “anak-anak ku tidak usah cemas
dan bingung maksut ayahanda memanggil ananda semua untuk memberitahukan sesuatu
hal yang penting kepada ananda semua” berkatalah
si bungsu yang cantik jelita Putri Gadig Cempaka “wahai ayahanda yang bijaksana
apa gerangan yang hendak ayahanda sampaikan kepada ananda semua.? Lalu raja
menjawab dengan suara yang tenang “ananda ku yang pemberani ayahanda memnggil
ananda semua kesini untuk membitahukan bahwa ananda semua sudah beranjak
remaja,sudah waktunya ananda semua untuk
belajar dan berlatih kuntau (silat) untuk membela diri anada semua bahkan untuk
membela kerajan Sungai Serut dari musuh dan pemberontak.
Mendengan perkataan sang raja anak-anaknya yang selama
ini memperhatikan dan meniru gerakan para hulu balang kerajaan saat berlatih
kuntau (silat) sangat senang dan penuh senyum mendengar berita itu, lalu berkata lah Raden Lemang batu “ wahai
ayahanda siapa gerangan kelak yang akan mengajari kami semua kuntau (silat)” oh
masalah itu ananda semua mungkin sudah mengenalnya ia adalah hulu balang
kerajaan yang terkenal dengan julukan Panglime Setue hitam (macan kumbang) kerajaan
Sungai Serut.
Waktu bergerak senja pun kelam menuju malam semua
anak-anak Ratu Agung telah berkumpul di belabar (tempat latihan silat Kerajaan)
berdirilah hulu balang kerajaan yang
berjulukan Setue hitam (macan kumbang) bersenjatakan pisau duwe (golok kembar)
dipinggang sambil ia berkata “baiklah adinda semua sebelum kita mulai awal
latihan silat ini mari kita memanjatkan do’a kepada sang pengusa pemilik cahaya
kehidupan. Setelah berdo’a merekapun belajar dasar-dasar gerakan dan kuda-kuda
didalam latihan banyak jurus-jurus yang mereka pelajari yang mana semua jurus
itu masih banyak belajar dengan gerakan hewah.
Setelah beberapa malam berlalu,minggu berganti bulan
berputar kepandaian Kelemba api(Raden Cili),Manuk Mincar,Lemang Batu.Tajuk Rompong,Rindang
Papan,Anak Dalam,dan Putri Gading Cempaka mulai menunjukan keahlian
masing-masing dalam gerak dasar Kuntau (silat) maka pada suatu malam tepat pada
malam jum’at pergantian hitungan tahun islam yang dikenal dengan malam 1
muharam hulu balang kerajaan yang berjulukan Setue hitam (macan kumbang)
menurunkan jurus yang sangat berbahaya kepada tujuh anak Ratu Agung dimalam
yang gelap yang hanya dipacari cahaya api unggun kecil ketujuh bersaudara itu
menghadap kearah matahari terbenam dengan penuh keseriusan mereka serentak
duduk bersilah sambil memejamkan mata dan membaca mantra,tak disadari hujan
rintik mulai turun angin berhembus kencang tak lama kemudian “hiaaaaaaaaaaaaaaat’
ketujuh bersaudara itu berguling kedepan lalu membungkuk seperti harimau dengan
tangan yang membentuk cakar yang siap menerkam.
Kejadian itu di saksikan oleh Ratu Agung dan
hulubalang kerajaan Setue hitam (macan kumbang) saat itu guru mereka berteriak “petereeeeeeeeeeeeeeee
hoy peteere masukan ilmu jurus setue kumbang (macan kumbang memecahkan )’ tak
berselang waktu tubuk Kelemba api(Raden Cili),Manuk Mincar,Lemang Batu.Tajuk
Rompong,Rindang Papan,Anak Dalam,dan Putri Gading Cempaka, mereka langsung
bergerak kuntau (silat) jurus macan kumbang dengan gerakan yang berbagai macam
disaat yang bersamaan ketujuh saudara itu dengan mata tertutup mereka mampu
menghindari serangan yang diberikan oleh guru mereka.
Bahkan tampa disadari ketujuh saudara itu yang sedang
asik menirukan jurus-jurus dan gerakan seperti macan dengan loncatan yang
tinggi dan terkaman yang mematikan guru mereka mengambil sebuah pedang yang
sangat amat tajam lalu hiaaaaaat pedang tadi ditebaskan ke seluh tubuh Kelemba
api(Raden Cili),Manuk Mincar,Lemang Batu.Tajuk Rompong,Rindang Papan,Anak
Dalam,dan Putri Gading Cempaka, pedang yang tajam tadi lalu ditebaskas secara
membabi buta terlihat disana pakaian mereka robek dan hancur terkena sabatat
pedang guru mereka namun luar biasa tubuh mereka tidak terluka sedikitpun hal
ini membuat Ratu Agung yang menyaksikan peristiwa ini tersenyum dan
mengangguk-anggukan kepalanya penuh keyakinan.
Setelah malam semakin dalam guru mereka Panglime Setue
Hitam berteriak lagi sambil memukulkan tangan kanannya kebumi lalu berkata “huuuuuuuuuu
huuuuuuuu huuuuuuuuu cukup sampai disini maka gerakan ketujuh saudara tadi
kembali duduk bersilah dan tangan menyatu di depan dada,kemudian mereka membuka
mata dengan bernafas yang yang cepat menunjukan kelelahan yang sangat berat,
kemudian majulah Ratu Agung dan berkata “anak-anak ku malam ini ananda semua
telah berhasil belajar dan memiliki gerakan dan jurus kuntau (silat) dengan
baik itu semua berkat kesabaran,keseriusan dan ketekunan ananda semua
gunakanlah ilmu ini untuk membela kebenaran dan membantu orang lain yang dalam
kesulitan dari gangguan orang-orang jahat” ‘baik ayahanda ucap ketujuh saudara
itu dengan serentak, “saya kira latihan malam mini cukup dulu besok pada saat
fajar mulai bersinar adinda semua datanglah kesini lagi dengan memakai pakaian
putih dan bersih’ ucap guru mereka Panglime Setue Hitam lalu Raden Rindang
Papan menjawab “ada apa gerangan guru kami harus berpakaian putih dan bersih’
dinda besok harus berpaian putih dan bersih karena melambangkan ketulusan dan
kebersihan hati dinda semua karena besok Ratu Agung akan menyerahkan senjata
pusak kepada dinda semua untuk menjadi senjata dan ciri dinda semua’ jawab guru
mereka dengan senyuman.
Setelah itu mereka berjalan dengan penuh rasa lelah kembali
kekamar meraka masing-masing untuk mengganti pakaian dan membersihkan tubuh
mereka setelah beberapa waktu Putri
Gading Cempaka telah selesai membersihkan dirinya dan mulai merebahkan tubuhnya
yang lelah diatas peniduran, karena kelelahan Putri Gading Cempaka kemudian tertidurlah
Putri Gading Cempaka dan bermimpi saat
itu ia melihat sangat banyak raden-raden dan kaum bangsawan mengelilinginya
sambil bertengkar pada saat itu datanglah seorang pemuda yang gagah dan sakti
menyelamatkan Putri Gading Cempaka terbang saat diatas sambil terbang Putri
Gading Cempaka melihat kearah kerajaan Sungai Serut yang dikelilingi kabut
hitam disaat itu Putri Gading Cempaka bertanya kepada seorang pemuda yang
menyelamatkanya “ siapa gerangan kakanda
yang telah berbaik hati menolong adinda ? tanya Putri Gading Cempaka pemuda itu tersenyum dan membisu sampai tiga
kali Putri Gading Cempak bertanya kembali dan menjawablah pemuda itu dengan
suara yang penuh kewibawaan “wahai Putri
aku adalah penolong mu dan akan berjodoh dengan mu’ “siapa nama kakanda yang
pemberani ini ..? tanya Putri Gading Cempaka “aku adalah Ngawak Dewe Gumay yang
berdiam dibukit Siguntang jawab pemuda itu.
Mendengan jawaban pemuda tersebut tersebut Putri
Gading Cempak tersentak dan terbangun ia melihat hari mulai menunjukan fajar
Putri Gading Cempak lalu bersiap untuk datang ke tempat latihannya semalam
dengan berpakaian putih dan bersih. Setelah Putri Gading Cempaka sampai ia melihat kakak-kakaknya dan guru bahkan
ayahandanya Ratu Agung berpakain putih dan bersih seperti ia pakai, setelah
berkumpul Ratu Agung mengajak anak-anaknya untuk duduk bersilah dengan saling
berhadapan membentuk sebuah lingkaran “ananda
semua mari kita meminta kepada sang maha cahaya agar tujuan kita terkabulkan” ‘baik ayahanda’ jawab mereka serentak pada
saat mereka khusuk berdo’a hari sangat sunyi dan tenang seakan mereka ada
disebuah balai yang sunyi tiba-tiba terpancarlah cahaya yang amat sangat
menyilaukan mata dari atas langit yang berlahan turun mendekati mereka dan
turun dihadapan mereka saat itu juga mereka membuka mata dan melihat cahaya
yang berbentuk lingkaran ditengah mereka tak begitu lama cahaya tersebut sirna
dan alangkah kaget mereka ternyata cahaya tadi meninggalkan benda-benda pusaka
keris yang tertancap ketanah.
“Wahai ananda semua ambilah keris itu satu keris untuk
satu orang” ucap Ratu Agung kepada anak-anaknya jumlah keris tersebut berjumlah
tujuh keris sesuai dengan jumlah mereka tujuh bersaudarah.Setelah mereka
mengambil keris-keris itu dalam keadaan duduk bersilah Ratu Agung berkata “anada
semua jadilah kalian semua penerus-penerus ku yang bijaksana,adil dan
jauhkanlah diri kalian semua dari kesombongan dan ketamakan karena itu semua dapat
menghancurkan dan membawa ananda semua kedalam kejahatan, kelak anada semua
begitu waktu telah tiba semua itu akan menentukan kemana ananda semua akan
berjalan” setelah mendengankan perkataan ayahandanya Putri Gading Cempaka teringat
akan mimpinya semalam lalu Putri Gading Cempaka berkata kepada Ratu Agung “ayahanda
mendengar perkataan ayahanda ananda teringat mimpi anada semalam.”.mimpi apakah
itu ananda sehingga anada sangat gelisah…? Tanya Ratu Agung kepada Putri Gading
Cempaka.
“Ayahanda, semalam anada bermimpi ananda melihat
sangat banyak raden-raden dan bangsawan mengelilingi ananda sambil bertengkar
pada saat itu datanglah seorang pemuda yang gagah dan sakti menyelamatkan ananda
terbang saat diatas sambil terbang ananda melihat kearah kerajaan Sungai Serut
yang dikelilingi kabut hitam disaat itu ananda bertanya kepada seorang pemuda
yang menyelamatkan ananda “siapa
gerangan kakanda yang telah berbaik hati menolong adinda” pemuda itu tersenyum
dan membisu sampai tiga kali ananda bertanya dan menjawablah pemuda itu dengan
suara yang penuh kewibawaan “wahai Putri aku adalah penolong mu dan akan
berjodoh dengan mu” “siapakah nama kakanda yang pemberani ini ..? Tanya Putri
Gading Cempaka “aku adalah Ngawak Dewe Gumay yang berdiam dibukit Siguntan
jawab pemuda itu.
“Itulah mimpi ananda semalah ayahanda, mendengar
cerita Putri Gading Cempaka Ratu Agung, hulu balang kerajaan julukan Setue
hitam (macan kumbang) Kelemba api(Raden
Cili),Manuk Mincar,Lemang Batu.Tajuk Rompong,Rindang Papan,Anak Dalam
kesemuanya terheran dan kebingungan, saat itu Raden Rindang Papan berkata “wahai adinda Putri Gading Cempaka dinda
jangan gusar dan takut kakanda akan selalu menjaga dinda” mendengar ucapan
saudaranya Putri Gading Cempaka sangat tenang.
Saat itu juga Ratu Agung meminta petunjuk kepada sang
maha Cahaya dengan bersemedi diantara anak-anaknya kemudian didalam semedinya
Ratu Agung mendapatkan jawaban, dari sang maha Cahaya “hai Ratu Agung Raja
Kerajaan Sungai Serut ketahuilah bahwa suatu saat nanti kecantikan Putri Gading
Cempaka akan menjadi rebutan para raden dan bangsawan dari kerajaan lain
sehingga terjadilah perperangan di kerajaan Sungai Serut (Bangkahulu) hanya
seorang laki-laki yang bernama Ngawak Dewe Gumay lah yang dapat menyelamatkan
kerajaan Sungai Serut dan laki-laki itulah yang akan menjadi jodoh Putri Gading
Cempaka karena sudah dijodohkan oleh langit.
Mendengar petunjuk yang didapat Ratu Agung sontak
menarik napas yang sangat dalam yang membuat ketujuh anaknya tersentak “dan
membuat Raden Tajuk Rompong bertanya “ayahanda ada apa ayahanda sampai menarik
napas sangat dalam ? “ananda tidak usah hawatir mudah-mudahan semua ini dapat
kita lewati, baiklah anada semua kembalilah ketempat masing-masing’ perintah
Ratu Agung kepada anak-anaknya dan bergegaslah anak-anak Ratu Agung kembali
ketempat mereka.
RATU AGUNG MENGUTUS
HULU BALANG KERAJAAN PANGLIME SETUE HITAM
BERANGKAT KE
BUKIT SEGUNTANG
Setah
anak-anak Ratu Agung kembali ketempatnya masing-masing tinggalah hulu balang
kerajaan yang dijuluki Panglime Setue Hitam Ratu Agung masing sangat penasaran
dengan petunjuk yang ia dapati sehingga Ratu Agung berdiam diri dihadapan
Panglime Setue Hitam “ampun baginda apa yang bias saya lakukan sehingga
kegusaran paduka dapat hilang dari diri paduka” mendengar perkataan hulu
balangnya Ratu Agung lalu berkata pada hulu balangnya “ wahai Hulu Balang ku
Panglime Setue Hitam aku akan mengutus mu untuk berangkat menyelidiki apakah
memang benar terdapat seorang pemuda yang bernama Ngawak dewe Gumay dibukit
Siguntang dan carilah dimana letak bukit Siguntang itu ? “baik paduka” jawab Panglime Setue Hitam
setelah mendengar tihta Ratu Agung Panglime Setue Hitam langsung bergegas
menyiapkan diri untuk berangkat mencari dimanakah bukit Siguntang tersebut
berada.
Panglime
Setue Hitam berjalan menuju kearah matahari terbit melalui hutan rimba,menaiki
bukit-bukit dan menyeberangi sungai-sungai dalam perjalanan setelah cukup lama
Panglime Setue Hitam beristirahat dibawa kaki gunung yang sangat dingin, tidak
berselang lama lewatlah seorang nenek yang memakai tongkat rambutnya putih
terurai sampai ketanah yang dikawal dua ekor harimau belang, ‘hai anak muda
kenapa kamu bias sampai kesini’ ucap nenek itu kepada Panglime Setue Hitam, “oh
saya kebetulan lewat dan beristirahat disini nek” ‘memangnya kamu mau kemana’
“begini nek saya adalah Hulu Balang Kerajaan Sungai Serut yang diutus Ratu
Agung untuk mencari dimana tempat Bukit Siguntang berada” ‘em kalau kamu memeng
ingin mencari dimana tempat bukit Siguntang naiklah ke atas gunung ini disana
ada seorang pemuda yang mengetahui dimana tempat bukit Siguntang berada’ “ maaf
nek siapa nama nenek dan apa nama gunung ini” Tanya Panglime Setue Hitam ‘nenek disini dipanggil dengan nama julukan
Nenek Belang’ “kenapa nenek dijuki nenek belang nek ? ‘ karena nenek mempunyai
dua ekor peliharaan harimau belang sihingga nama itu melekat dengan nenek’ “oh
begitu nek, lalu apa nama gunung ini nek ?” ‘gunung ini bernama Gunung Dempu
(Gunung Dempo Pagar Alam), naiklah engkau keatas sana dan jangan takut karena
kamu berjodoh dengan gunung ini’ setelah itu Panglime Setue Hitam menaiki gunung dempu
tersebut dengan penuh penasaran dan pertanyaan dimana pemuda yang akan saya
temui ini dan siapa namaya,
Tak
terasa hari mulai gelap dan cuaca sangat dingin dalam perjalananya menuju
puncak gunung dempu Panglime Setue Hitam dikagetkan dengan suara burung yang
saling bersautan dan Panglime Setue
Hitam melihat ada seorang pemuda yang sedang bersemedi yang terlihat sangat
gagah dan kekar, ‘siapa gerangan hingga menemui ku sampai kesini’ ucap pemuda
yang sedang bersemedi tersebut “maaf saya adalah Hulu Balang kerajaan Sungai
Serut yang dalam perjalanan mencari bukit Siguntang” ‘hahahahahah ada apa
gerangan mencari bukit Siguntang apa keperluan Kerajaan Sungai Serut
mencarinya’ ucap pemuda tersebut sambil berdiri berjalan mendekati Panglime
Setue Hitam, “ lalu Panglime Setue Hitam menceritakan “begini dikerajaan Sungai
Serut yang di pimpin oleh Raja Ratu Agung ia memiliki tujug orang anak yang
bungsu bernama Putri Gading Cempaka pada suatu malam Putri Gading Cempaka
bermimpi ia melihat sangat banyak
raden-raden dan kaum bangsawan mengelilinginya sambil bertengkar pada saat itu
datanglah seorang pemuda yang gagah dan sakti menyelamatkan Putri Gading
Cempaka terbang saat diatas sambil terbang Putri Gading Cempaka melihat kearah
kerajaan Sungai Serut yang dikelilingi kabut hitam disaat itu Putri Gading
Cempaka bertanya kepada seorang pemuda yang menyelamatkanya “ siapa gerangan kakanda yang telah berbaik
hati menolong adinda” pemuda itu tersenyum dan membisu sampai tiga kali Putri
Gading Cempak bertanya dan menjawablah pemuda itu dengan suara yang penuh
kewibawaan “ wahai Putri aku adalah penolong mu dan akan berjodoh dengan mu”
siapa nama kakanda yang pemberani ini ..? aku adalah Ngawak Dewe Gumay yang
berdiam dibukit siguntang.
Mendengar
cerita Panglime Setue Hitam pemuda itu mempersilahkan Panglime Setue Hitam
untuk bermalam ditempatnya karena hari sudah gelap,’kemarilah wahai utusan
Kerajaan Sungai Serut bermalamlah engkau disini untuk sementara karena hari
mulai gelap’ “terimakasih atas kebaikan kanda siapa nama kanda ? Tanya Panglime
Setue Hitam ‘ nama ku adalah Ngawa Dewe Semidang adik dari Ngawak Dewe Gumay’
mendengar jawaban pemuda itu Panglime Setue Hitam langsung tersentak kaget dan
sangat senang karena ia telah mengetahui bahwasanya pemuda yang bernama Ngawak
Dewe Gumay itu memang ada. “ wahai Ngawak Dewe Semidang dimanakah tempat Ngawak
Dewe Gumay tersebut ? ‘ia berdiam
dibukit Siguntang arah Selatan,besok saat burung mulai berbunyi turunlah dari
gunung ini berjalanlah menuju sumber cahaya (matahari)’ kemudian Panglime Setue
Hitam bertanya kembali “ Ngawak mengapa jarak antar Ngawak Dewe Semidang dengan
Ngawak Dewe Gumay sangat jauh ada yang di gunung Dempu (Dempo) ada yang di
Bukit Siguntang’ “jarak bukanlah ukuran kedekatan bukanlah ikatan aku dan kakak
ku telah mengucap janji di bukit siguntang’ jawab Ngawak Dewe Semidang, “lalu
apa janji itu wahai Ngawak’ ucap Panglime Setue Hitam janji itu “dimana ada keturunan
Gumay disana ada keturunan Semidang dimana ada keturunan Semidang disana ada
keturunan Gumay” setelah mendengar jawaban
dari Ngawak Dewe Semidang Panglime Setue Hitam mulai mengantuk dan ia
berpamitan untuk istirahat tidur diatas bebatuan yang diselimuti rerumputan
yang lebat.
Disaat
Panglime Setue Hitam tidur dengan nyeyaknya, ia tersentak terbangun saat
mendengar suara gemuruh dan pancaran sinar seperti kilat yang sangat
menyilaukan sontak Panglime Setue Hitam mencari sumber suara dan pancaran
cahaya itu saat Panglime Setue Hitam
mendekati asal keributan itu sontak ia terperangah kaku tak bias berbuat apa
apa seakan tubuhnya terkunci hanya mata yang bisa melihat ternyata Ngawak Dewe
Semidang sedang memperdalam ilmu silatnya dengan gerakan yang sangat cepat
menggunakan jurus Rajawali Emas sehingga tubuhnya mengambang diatas yang di
kelilingi sinar putih yang menyilaukan tidak hanya disitu saat Panglime Setue
Hitam melihat kebawah tepian gunung Dempu (Dempo) ia melihat beribu macam macan
berkumpul menyaksikan ilmu silat Ngawak Dewe Semidang yang sangat sakti,
setelah beberapa lama kemudian berlahan Ngawak Dewe Semidang turun menyentuh
bumi saat itu juga beribu macam macan tadi hilang secara berlahan kemudian
sacara sepontan Panglime Setue Hitam duduk bersimpuh sambil berkata “ Ngawak
sudilah ngawak mengajari ku ilmu silat tadi dan mengangkat ku sebagai murit
Ngawak” Ngawak Dewe Semidang tersenyum sambil berkata “wahai Panglime Setue
Hitam engkau berjodoh dengan ku tapi tunaikanlah dulu amah raja mu
berangakatlah menemui kakanda Ngawak Dewe Semidang setelah engkau bertemu
denganya sampaikan hasil perjalanan mu kepada raja mu setelah itu kembalilah
engkau kegunung Dempu (Dempo Pagar Alam).
Saat
burung mulai berbunyi berangkatlah Panglime Setue Hitam menuju Selatan kearah
sumber cahaya matahari terbit dalam perjalanan Panglime Setue Hitam selalu
terburu-buru ingin sekali cepat sampai setelah beberapa hari tibalah Panglime Setue
Hitam di suatu tempat yang penuh dengan air sungai yang tenang mengalir jauh
diseberang sana ia melihat sebuah bukit lalu ia berpikir “mungkin itu yang dikatakan
bukit Siguntang tersebut” kemudian
Panglime Setue Hitam mengambil sebatang pohon bambu yang terseret arus sungai
lalu Panglime Setue Hitam memohon kepada Sang Maha Cahaya untuk menunggangi
sebatang pohon bambu untuk menyeberangi sungai itu, dengan ilmu jurus peringan
tubuhnya Panglime Setue Hitam bambu pun melanyang diatas sungai tersebut
membawa Panglime Setue Hitam sampai disebuah bukit pada saat Panglime Setue Hitam akan menapakan kakinya ke
daratan ia di kagetkan dengan suara seorang pemuda.
“woooooiii siapa gerangan berani datang
kebukit Siguntang ini” Panglime Setue
Hitam sangat kaget karena ada suara tidak ada orang kemudian Panglime Setue
Hitam langsung menjawab aku Hulu Balang Kerajaan Sungai Serut (Bangkahulu)
Panglime Setue Hitam membawa pesan dari Ratu Agung” tiba-tiba munculah seorang
pemuda dihadapanya yang sangat tampan,gagah dan berwibawah dan berkatalah
pemuda itu “aku Ngawak Dewe Gumay, ada apa kisanak sampai kesini? Panglime
Setue Hitam lalu menceritakan bahwasanya ia diberi tahu oleh Ngawak Dewe
Semidang kalau bukit Siguntang ada disini” lalu Ngawak Dewe Gumay bertanya
kepada Panglime Setue Hitam “apa tujuan kamu”
Panglime Setue Hitam bercerita tentang mimpi Putri Gading Cempaka,
setelah mendengar cerita itu Ngawak Dewe Gumay memerintahkan Panglime Setue
Hitam kembali ke Kerajaan Sungai Serut “ kembalilah engkau wahai pemuda yang
setia sampaikan pesan ku kepada raja Ratu Agung bila nanti membutuhkan
pertolongan ku utuslah salah satu anaknya kebukit Seguntang maka aku akan datang.
Setelah
mendengar jawaban Ngawak Dewe Gumay makan Panglime Setue Hitam kembali dengan
menaiki sebatang pohon bambu dengan mengikuti arus aliran sungai setelah sekian
lama menyusuri arus sungai sampailah Panglime Setue Hitam kedaratan ia merasa
perjalanan ini sangat mengesankan, dengan melewati hutan perbukita sampailah
Panglime Setue Hitam dikerajaan Sungai Serut sesampainya disana Panglime Setue
Hitam langsung menghadap Raja Kerajaan Sungai Serut Ratu Agung kedatangan
Panglime Setue Hitam disambumbut dengan gembira oleh Ratu Agung sambil berkata
“masuklah wahai pembesar Kerajaan Sungai Serut Panglime Setue Hitam’ maka
Panglime Setue Hitam langsung masuk dan duduk di tempat Panglime Setue Hitam “
ampun ratu sekiranya perjalanan ku ini terlalu lama maka hukumlah aku sehingga
membuat Ratu Agung menanti-nanti kedatangan ku’ ucap Panglime Setue Hitam “
kegelisahanku kegundahan ku semua telah hilang begitu aku mendengar engkau
sudah kembali kekerajaan Sungai serut ini’.
Setelah
beberapa lama pertemuan itu Ratu Agung yang sudah lama ingin menayakan hasil
perjalanan Panglime Setue Hitam mencari Bukit Siguntang dan Ngawak Dewe Gumay Ratu
Agung langsung bertanya kepada Panglime Setue Hitam “wahai hulubalang ku apa
gerangan hasil perjalanan mu mencari bukit Siguntang ? Panglime Setue Hitam
menjawab “ampun baginda selama perjalanan ku mencari bukit Siguntang dalam
perjalana aku menaiki gunung Dempu (Gunung Dempo Pagar Alam) disana aku bertemu
dengan Ngawak Dewe Semidang beliau adalah adik dari Ngawak Dewe Gumay’ “ jadi
pemuda yang bernama Ngawak Dewe Gumay itu memang ada ? Tanya Ratu Agung kepada
Panglime Setue Hitam “ia baginda dan aku telah bertemu dengan Ngawak Dewe Gumay’
jawab Panglime Setue Hitam.
Setelah
mendengar berita itu Ratu Agung teringat akan petunjuk dalam semedinya bahwa
pemuda itu akan menjadi penolong dan menjadi suami dari anaknya Putri Gading
Cempaka, “ampun baginda beribu ampun’ ucap Panglime Setue Hitam kepada Ratu
Agung “ apa gerangan Panglime Setue Hitam
yang henda engkau uacapkan’ Tanya Ratu Agung “Baginda sudilah baginda
mengabulkan permintaan hamba ini, kerena ini merupakan keinginan hamba yang
sangat dalam kepada baginda’ jawab Panglime Setue Hitam “ wahai hulu baling ku
yang setia dan taat engkau telah melaksanakan perintah ku dengan baik maka aku
Raja dari Kerajaan Sungai Serut akan mengabulkan permintaan Panglime Setue
Hitam’ mendengar jawaban dan janji Ratu Agung Panglime Setue Hitam sangat
senang “apa itu permintaan mu hulubalang kerajaan Sungai Serut’ Tanya Ratu
Agung “ampun baginda dalam perjalanan ku
mencari bukit Siguntang aku telah berjanji dengan seorang pemuda yang akan
mengajari ku juru-jurus silat yang sangat hebat dan hamba telah berjanji untuk
kembali ke gunung Dempu (gunung Dempo Pagar Alam),untuk berguru dan menetap
disana selamanya’.
Mendengar
permintaan Panglime Setue Hitam Ratu Agung sontak terkaget-kaget dan ia baru
saja mengucapkan janji akan mengabulkan apa saja permintaan Panglime Setue
Hitam lalu Ratu Agung menjawab dengan penuh kesedihan “baiklah wahai pembesar
Kerajaan Sungai Serut kalau memang itu sudah menjadi keputusan dan pilihan
Panglime Setue Hitam aku izinkan engkau untuk meninggalkan kerajaan ini namun
bila suatu saat engkau ingin kembali lagi kekerajaan Sungai Serut ini kami akan
selalu menerima mu dengan gembira’.
Mendengar
ucapan Ratu Agung maka berdirilah Panglime Setue Hitam dihadapan Ratu Agung dan
pembesar-pembesar kerajaan yang lain sambil berkata “aku Panglime Setue
Hitam berjanji setelah kepergian ku
untuk belajar silat lagi di gunung Dempu (Dempo) maka kerajaan Sungai Serut
memiliki seorang Hulu Balang yang setia yang berada digunung Dempu (Dempo)’.
Kemudian Panglime Setue Hitam berangkat menuju
Gunung Dempu ( Gunung Dempo Pagar Alam) untuk menemui NGawak Dewe Semidang
belajar dan memperdalam ilmu-ilmu silatnya. Setah kepergian Panglime Setue
Hitam Ratu Agung diam-diam pergi ke tempat anak-anaknya dan menceritakan hasil
perjalanan Panglime Setue Hitam dan memberitahkan kepada anak-anaknya tentang
keinginan Panglime Setue Hitam untuk menetap digunung dempo, setelah mendengar
cerita Ratu Agung salah satu anaknya itu yakni Raden Lemang Batu berkata kepada
ayahnya Ratu Agung “ayahanda kalau memang benar cerita ayahanda kepada kami
bahwa abdi kerajaan Panglime Setue Hitam akan memperdalam ilmu silatnya disana,
suatu masa nanti maka aku akan mendatangi tempat itu juga untuk berguru kembali
dengan pemuda yang sakti itu’ mendengar ucapan Raden Lemang Batu Ratu Agung
lalu menjawab “ananda Lemang Batu keinginan ananda sangatlah mulia ingin
memperdalam ilmu silat ananda, semoga yang Maha Cahaya memberikan jalan yang baik
untuk ananda semua,amin’ ucap ketujuh anak Ratu Agung.
PEPERANGAN DI KERAJAAN SUNGAI SERUT (BANGKAHULU)
Waktu
berjalan siang berganti malam setelah sekian lama ketujuh anak-anak Ratu Agung
telah tumbuh dewasa kacantikan Putri Gading Cempak menjadi pembicaraan didalam
kerajaan bahkan sampai kekerajaan-kerajaan tetangga, karena kecantikan Putri
Gading Cempak banyak bangsawan dan Raden kerajaan yang melamarnya namu selalu
ditolak oleh Putri Gading Cempak dikenal memiliki paras yang ayu suara yang
lembut, tidak hanya itu Putri Gading Cempaka dikenal dengan kelenturan
jari-jarinya dalam menari.
Ratu
Agung sangat lah beruntung memiliki seorang putri yang baik sopan sehingga bila
Ratu Agung akan mengadakan suatu acara dikerajan beliu selalu mengajak
anak-anaknya untu menghadirinya tidak lupa ratu agung mempersilahkan Putrinya
Putri Gading Cempaka untuk memperlihatkan kepandaianya dalam menari,kemampuan menarinya
ia dapat dengan belajar didalam istana sehingga pada saat Putri Gading Cempaka
menari selalu tersenyum dengan manisnya.
Sampai
suatu hari berita kecantikan Putri Gading Cempak terdengar oleh kerajaan Aceh
Tengah ia pun langsung memerintahkan seorang pejabat kerajan Aceh Tengah untuk
melamar Putri Gading Cempak “wahai
pejabat kerajaan Aceh Tengah pergilah kalian ke Kerajaan Sungai Serut (Bangkahulu),untuk
menemui Rajanya sampaikan kepadanya bahwa aku ingin mempersunting anaknya untuk
aku jadikan permaisuri ku”.
Mendengar
perintah sang raja yang sangat berambisi untuk melamar Putri Gading Cempak
mereka pun berangkat menuju Kerajaan Sungai Serut sesampainya di Kerajaan
Sungai Serut mereka disambut oleh Ratu Agung penuh dengan rasa gembira sambil
bertanya kepada utusan Kerajaan Aceh Tengah “ ada apa sampai-sampai Kerajaan
Aceh Tengah mengutus pejabat kerajaan jauh-jauh sampai ksenini’ “ ampun maha
raja kedatangan kami kesini untuk menyampaikan pesan dari raja kami’ jawab
pejabat kerajaan Aceh Tengah “apa isi pesan itu ? tanaya Ratu Agung “ pesan itu
Raja Kerajaan Aceh Tengah ingin mempersunting Putri Gading Cempak menjadi istrinya’
ucap pejabat Kerajaan Aceh Tengah.
Mendengar
isi pesan itu Ratu Agung langsung memanggil anaknya Putri Gading Cempak setalh
beberapa lama kemudian Putri Gading Cempak tiba dihadapan para pejabat Kerajaan
Aceh Tengah dan sontak membuat mata para utusan Kerajaan Aceh Tengah terpelotot
tak mampu berkata-kata hanya terdiam saat melihat kecantikan Putri Gading
Cempak, “ada apa ayahanda memanggil ku kesini’ ucap Putri Gading Cempak dengan
suara yang lembut seakan melengkapi kecantikanya dengan suara yang lembut
“ananda ku lihatlah ini adalah utusan dari Kerajaan Aceh Tengah yang ingin
melamar ananda menjadi permaisuri kerajaan Aceh Tengah’ ucap Ratu Agung kepada
Putri Gading Cempak, “ ampun ayahanda bukan maksut ananda melawan atau
menentang ayahanda namun ananda tidak mau menerima lamaran dari Kerajaan Aceh
Tengah ini.
Mendengar
jawaban Putri Gading Cempak membuat utusan Kerajaan Aceh Tengah kecewa dan malu
sehingga mereka kembali dengan tangan hampa, setelah mereka sampai di Kerajaan
Aceh Tengah mereka langsung menghadap Raja Aceh Tengah dan menceritakan
kecantikan Putri Gading Cempak yang tiada duanya, pejabat kerajaan Aceh Tengah
menyaipaikan penolakan Putri Gading Cempak atas lamaran itu.
Sepontan
Raja Aceh Tengah marah sambil berdiri dan berkata “hari ini harga diri kerajaan
Aceh Tengah telah diinjak-injak berani-beraninya Putri Gading Cempak menolak
lamaran ku, prajuriiiiiiiit malu ketimbang malu siapkan semua pasukan dan
perbekalan hari ini juga kita berangkat dan menyerbu kerajaan Sungai Serut” “
baik baginda jawab para pejabat Kerajaan Aceh Tengah” maka berangkatlah seluruh
pasukan kerajaan Aceh Tengah melewati lautan.
Dikerajaan
Sungai Serut roda pemerintahan berjalan seperti biasanya sampai suatu hari
tibalah kapal-kapal kerajan Aceh Tengah yang membawa pasukanya untuk menggempur
Kerajaan Sungai Serut, berita penyerbuan itu sontak membuat isi kerajaan Sungai
Serut kaget dan menghadaplah pembesar kerajan Sungai Serut “ampun baginda bala
tentara kerajan Aceh Tengah akan menyerbu Kerajaan Sungai Serut apa pentah
baginda ? “ada apa ini,sehingga mereka
menyerbu kerajaan Sungai Serut ? tanya Ratu Agung kepada pembesarnya “menurut
berita yang saya dapat Raja Aceh Tengah tidak menerima penolakan lamaranya
kepada Putri Gading Cempak sehingga mereka ingin merebut Putri Gading Cempak
dengan kekerasan’ mendengar jawaban pembesarnya Ratu Agung memerintahkan
pembesarnya “wahai para prajurit ku kita hadapi ba tentara Kerajaan Aceh Tengah
sampai titik dara penghabisan’ mendengar peintah Ratu Agung seluruh pasukan dan
hulu balang kerajaan Sungai Serut bersiap menghadapi serangan kerajaan Aceh
Tengah.
Mendengar
berita ini anak-anak Ratu Agung Kelemba api(Raden Cili), Raden Manuk Mincar, Raden
Lemang Batu, Raden Tajuk Rompong, Raden Rindang Papan, Raden Anak Dalam,dan
Putri Gading Cempak cemas dan bersiap untuk menghadapi peperangan.
Ditempat
lain pertempuran terjadi para pasukan saling menyerang dengan ilmu silatnya
merekapun menggunakan jurus-jurus yang mematikan setelah beberapa hari
pertempuran salah satu hulubalang kerajaan Sungai Serut melaporkan bahwa
peperangan ini telah banyak membuat pasukan kerajaan Sungai Serut tewas dan
luka sehingga peperangan ini di kuasai oleh pasukan Kerajaan Aceh Tengah,
mendengar beta ini Ratu Agung langsung mengelar pertemuan dengan para
panglimanya solusi dan jalan keluar tidak ada sehingga Ratu Agung kecemasan dan
tertunduk lesu dalam kebingungan datanglah Putri Gading Cempak “ ampun ayahanda ananda
telah mendengar berita kekalahan pasukan kita’ ucap Putri Gading Cempak “ oh
anada tidak usah takut kita pasti menang sang Maha Cahaya pasti membantu kita’
jawab Ratu Agung “ayahnada ingat dengan mimpi ananda dahulu waktu ananda
menjelang remaja, Putri Gading Cempak lalu menceritakan kembali mimpinya ananda
melihat sangat banyak raden-raden dan bangsawan mengelilingi ananda sambil
bertengkar pada saat itu datanglah seorang pemuda yang gagah dan sakti
menyelamatkan ananda terbang saat diatas sambil terbang ananda melihat kearah
kerajaan Sungai Serut yang dikelilingi kabut hitam disaat itu ananda bertanya
kepada seorang pemuda yang menyelamatkan ananda
“siapa gerangan kakanda yang telah berbaik hati menolong adinda” pemuda
itu tersenyum dan membisu sampai tiga kali ananda bertanya dan menjawablah
pemuda itu dengan suara yang penuh kewibawaan “wahai Putri aku adalah penolong
mu dan akan berjodoh dengan mu” “siapakah nama kakanda yang pemberani ini ..? Tanya
Putri Gading Cempaka “aku adalah Ngawak Dewe Gumay yang berdiam dibukit
Siguntan jawab pemuda itu’.
Saat
itu juga pembesar kerajaan mengingatkan Ratu Agung “ampun baginda dulu baginda
pernah memerintahkan hulu balang kerajaan untuk mencari pemuda itu dan menurut
berita pemuda itu ada dan akan membantu kita dengan sarat mengutus salah satu
putra mahkota kesana’ mendengar kata-kata itu Ratu Agung langsung memanggil
salah satu anaknya yaitu Raden Rindang Papan,” anak ku berangkatlah ananda ke
bukit Siguntahng untuk menemui pemuda yang bernama Ngawak Dewe Gumay sampaikan
kepadanya bahwa Putri Gading Cempaka yang sudah dijodohkan dari langit akan
direbut oleh Raja Aceh Tengah’ “baik ayahanda, namun kemanakah arah yang harus
ananda lewati ayahanda” ucap Raden Rindang Papan “ menurut cerita utusan
kerajan dahulu bukit Siguntang ada di arah matahari hidup’ jawab Ratu Agung.
Maka
berangkatlah Raden Rindang Papa yang mempunyai paras tinggi dan gagah menuju
Bukit Siguntang dengan kecepatan tinggi menuju bukit Siguntang dengan
menunggangi sekeping papan. Setelah beberapa lama kemudian sampailah Raden
Rindang Papan di bukit Siguntang dan
bertemulah dengan seorang pemuda yang bernama Ngawak Dewe Gumay, “wahai pemuda
penunggang papan siapa gerangan dan ada apa gerangan sampai kesini’ ucap Ngawak
Dewe Gumay “aku adalah Raden Rindang Papan putra Raja Sungai Serut kakak dari
Putri Gading Cempaka ingan menyampaikan pesan’ jawab Raden Rindang Papan “oh
seorang putra kerajaan dari Sungai Serut,apa yang hendak engkau sampaikan’ ucap
Nawak Dewe Gumay “begini Kerajaan Sungai Serut (Bangkahulu) saat ini sedang
diserang oleh Kerajaan Aceh Tengah mereka ingin mengambil Purti Gading Cempaka
dari kami dan menurut berita adik ku Putri Gading Cempaka berjodoh dengan
engkau akan direbut oleh Raja Aceh Tengah’ jawab Raden Rindang Papan, setelah mendengar
berita dari RIndang Papan maka Ngawak Dewe Gumay menyarankan agar Rindang Papan
untuk pulang lebih dulu kemudian ia akan
menyusul mendengar nasehat itu maka berangkatlah Raden Rindang Papan kembali
kekerajaan Sungai Serut.
Setelah
berselang waktu berangkatlah Ngawak Dewe Gumay menuju Kerajaan Sungai Serut
dengan kecepatan tinggi sesampainya di kerajaan Sungai Serut Ngawak Dewe Gumay
melihat kekalan pasukan sungai Serut dengan tembok gerbang hamper roboh, tidak
mengundur waktu maka Ngawak Dewe Gumay langsung terlibat dengan peperangan itu
kehadiran Ngawak Dewe Gumay membuat pasukan Kerajaan Aceh Tengah terkaget-kaget
sontak membuat Panglima kerajaan Aceh Tengah berkata “siapa lagi yang datang
ini kalau ingin hidup pergilah kalau mau mati majulah, “hahahahah kedatangan ku
kesini untuk membuat kalian semua mati’ ucap Ngawak Dewe Gumay.
“Jangan
banyak cincong’ tantang Panglima Kerajaan Aceh Tengah maka bertarunglah kedua
orang sakti itu dengan jurus-jurus yang mematikan dalam pertarungan itu Ngawak
Dewe Gumay langsung mengeluarkan sebuah keris dari dalam bajunya ia menggunakan
jurus silat Tebang Seribu, saat musuhnya lengah dalam pertarungan itu Ngawak
Dewe Gumay menusukan kerisnya kedada musuhnya Panglima Kerajaan Aceh Tengah yang
membuat musuhnya terluka parah sekali tusukan namun seribu lobang tusukan sekujur
tubuh Panglima Kerajaan Aceh Tengah ia sekarat dan mati seketika.
Melihat
kejadian itu pasukan kerajaan Sungai Serut dan Pasukan Kerajaan Aceh Tengah
ketakutan sambil bertanya didalam hati mereka “siapa pemuda ini, dan dari mana
ia datang ? setelah kematian Panglima Kerajaan Aceh Tengah Ngawak Dewe Gumay
berteriak “wahaaai yang datang dari kerajaan Aceh Tengah hadapi aku, mau
bertarung satu persatu atau sepasukan aku siap’ tantang Ngawak Dewe Gumay maka
majulah pasukan kerajaan Aceh Tengah terjadilah pertarungan yang tidak
seimbang namun dengan kesaktian Ngawak
Dewe Gumay seluruh pasukan Aceh Tengah mati sehingga banyak mayat-mayat pasukan
Aceh Tengah yang berkaparan bukan hanya membuat mereka semua musna Ngawak Dewe
Gumay juga membersihkan tumpukan-tumpukan mayat itu dengan menggunakan jurus
angin puting beling maka sekejab saja tumpukan mayat-mayat pasukan Aceh Tengah
tadi bersih seketika.
Setelah
perang telah usai mayat-mayat telah dibersihkan Ngawak Dewe Gumay menghadap
Raja Kerajaan Sungai Serut Ratu Agung setelah mereka sedang berbicara dengan
asik yang disambut dengan hangat oleh Ratu Agung tiba-tiba datanglah Raden
Rindang Papan bukanya berterimakasih atas bantuan Ngawak Dewe Gumay malah
menganggap meremehkanya mendengar ucapan Raden Rindang Papan maka Ngawak Dewe Gumay
mengeluarkan kesaktianya sehingga membuat Kerajaan Sungai Serut (Bangkahulu)
hilang dari penglihatan setelah itu Ngawak Dewe Gumay pergi kembali menuju
tempatnya di Bukit Siguntang.
Setelah
kepergian Ngawak Dewe Gumay maka menyusulah Putri Gading Cempaka dengan
menggunakan Sayak dari buah kayu yang diselimuti buih air menuju Bukit
Siguntang dalam perjalananya menuju bukit Siguntang, Putri Gading Cempaka
sempat mengganti namanya sampai tiga kali yaitu :
Ø Putri Hitam Manis
Ø Putrid Kemantan Buih (setelah sampai dibukit siguntang
namanya diganti menjadi
Ø Putri Kembang Dadar
Sesampainya
Putri Gading Cempaka dibukit Siguntang ia langsung bertemu dengan Ngawak Dewe
Gumay “wahai kakanda yang gagah perkasa jangan lah kakanda menjadi marah kepada
kami kedatangan ku kesini jauh-jauh menyusul kaknda ingin menyampaikan
permohonan maaf atas ucapan kakanda Raden Rindang Panan kepada kakanda Ngawak
Dewe Gumay” ucap Putri Gading Cempaka, mendengar kata-kata Putri Gading Cempaka
yang lembut dan menghargai kedatanganya jauh menuju bukit Siguntang Ngawak Dewe
Gumay pun menjawab “wahai adinda tidaklah mungkin kakanda menaruh dendam dengan
uvapan raden Rindang Papan semua itu telah berlalu bersama angin yang
berhembus’.
Rupanya
perbuatan Ridang Papan ini tidak disenangi oleh Ngawak Dewe Gumay dengan
kesaktianya Ngawak Dewe Gumay kembali membuat Kerajaan Sungai Serut Nampak
kembali. Kemudian Ngawak Dewe Gumay dan Putri Gading Cempaka bersama-sama
berangkat kembali kekerajaan Sungai Serut.
PUTRI GADING CEMPAKA MENIKAH
DENGAN PENDEKAR NGAWAK DEWE
GUMAY
Setalah
melalu perjalan yang jauh secara bersama-sama sampailah mereka di kerajaan
Sungai Serut kedatangan mereka disambut langsung oleh Ratu Agung dan keenam purtanya Kelemba
api(Raden Cili), Raden Manuk Mincar, Raden Lemang Batu, Raden Tajuk Rompong, Raden
Rindang Papan, Raden Anak Dalam setalah mereka berkumpul di dalam kerajaan
Raden Rindang Papan langsung meminta maaf kepada Ngawak Dewe gumay “Dinda
Ngawak Dewe Gumay maafkan atas kata-kata ku yang dahulu sehingga membuat dinda
marah, ucap Raden Rindang Papan “tak apa
kakanda semua telah berlalu’ jawab Ngawak Dewe Gumay mendengar pembicaraan
mereka berdua Ratu Agung sangat bahagia dan tersenyum lebar.
Sesaat
setelah mendengar Rindang Papan berbicara dengan calon suaminya Putri Gading
Cempak menyampaikan permintaan maaf kepada ayahandanya Ratu Agung dan saudara-saudaranya
“ ayahanda dan kakanda semua adinda mohon maaf karena adinda merasa sumua masalah
yang telah datang menimpa kerajaan Sungai Sungai serut bersumber dari ananda,
ananda sangat bersalah ayahanda’ “tidak ananda semua yang telah kita alami ini
dan yang akanterjadi adalah kehenda Sang Maha Cahaya bukan salah ananda, mari
kita saling mawas diri untuk saling melindungi saling menyayangi’ tegas Ratu
Agung kepada Putri Gading Cempaka dan keenam putranya.
“Sudahlah
yang sudah berlalu kita lupakan, sekarang mari kita rayakan pertemuan kita ini
karena atas kehendak Sang Maha Cahaya lah kita dapat berkumpul bersama lagi’
ucap Kelemba api(Raden Cili) kepada adik-adiknya.
Asik
dalam kebahagian mereka saling bercanda sambil menikmati hidangan makanan yang
disiapkan oleh para pelayan kerajan, mereka berkumpul didalam kerajaan dengan
bahagia saat itulah dengan rasa hormat dan rasa keseganan tercetuslah ucapan Ngawak
Dewe Gumay kepada Ratu Agung “ampun beribu ampun paduka,bukanya niat hati ingin
membuat suasana menjadi rusak namun didalam perjalanan kami berdua kemari ingin
memohon izin dan restu kepada Ratu Agung dan kakanda Kelemba api(Raden Cili),
Raden Manuk Mincar, Raden Lemang Batu, Raden Tajuk Rompong, Raden Rindang
Papan, Raden Anak Dalam agar menerima ku sebagai suami dinda Putri Gading
Cempaka’.
“kalau memang itu sudah menjadi keinginan dan
janji anada berdua tidak akan ayahanda halang-halangi’ jawab Ratu Agung dengan wajah gembira Putri Gading Cempaka
tersenyum bahagia, melihat putrinya bahagia dengan lantang Ratu Agung
mengucapkan kata dihadapan ketujuh anaknya dan para pembesar kerajaan Sungai
Serut “ aku Raja Sungai Serut memerintahkan segera laksanakan pernikahan ini
dengan gembira’ ucap Ratu Agung ,
Maka
ke enam putranya Kelemba api(Raden Cili), Raden Manuk Mincar, Raden Lemang
Batu, Raden Tajuk Rompong, Raden Rindang Papan, Raden Anak Dalam, mereka
tersenyum bahagia menyambut niat Ngawak Dewe Gumay mempersunting adiknya Putri
Gading Cempaka.Seluruh isi kerajaan Sungai Serut dan rakyatnya sibuk dan
bahagia mempersiapkan acara pernikahan Ngawak Dewe Gumay dan Putri Gading
Cempaka sehinga banyak para bangsawan ,para raden dan raja kerajaan tetangga
yang datang memberikan restu.
Pada
akhirnya setelah pernikahan itu pasangan Ngawak Dewe Gumay dan Putri Gading
Cempaka berpamitan kepada Ratu Agung dan Kelemba api(Raden Cili), Raden Manuk
Mincar, Raden Lemang Batu, Raden Tajuk Rompong, Raden Rindang Papan, Raden Anak
Dalam, untuk pergi tinggal di Bukit Siguntang “ayahanda dan kakanda semua kami
berdua, akan kembali kebukit Siguntang untuk memulai hidup kami dan sudilah
kiranya ayahanda dan kakanda merestui niat kami ini’ ucap Ngawak Dewe Gumay “ananda berdua mulailah
hidup ananda berdua tentukanlah jalan kehidupan anada berdua semoga nanti
ananda berdua dikarunia anak-anak yang gagah berani dan jangan lupa sampaikan
kepada keturunan yang Maha Cahaya melindungi ananda berdua” jawab Ratu Agung.
Setelah
mendapat restu dari Ratu Agung berangkatlah Putri Gading Cempa dan Ngawak Dewe
Gumay menuju bukit Siguntang Mahameru, dengan menaiki sebuah kayu yang
berlobang tengahnya (lesung) setelah sampai di bukit Siguntang Putri Gading
Cempak dan suaminya mulai memulai hidup yang baru mereka lalui hari demi hari
dengan saling menyayangi, pada saat mulai senja Putri Gading Cempaka menembang
sebuah lagu yang mengisyaratkan kerinduanya kepada saudara-saudaranya dan
kerinduanya terhadap kerajaan Sungai Serut (Bangkahulu) tak disadari Putri
Gading Cempaka meneteskan air mata kerinduan, pada saat itu suaminya diam-diam
memandang Putri Gading Cempaka dengan rasa kasihan.
Beberapa
lama kemudian terdengar kabar bahwa mereka telah mempunyai keturunan yang
berdarahkan Bangkahulu, kedua putra Putri Gading Cempaka yang pertama bernama
Ratu Skandar Alam dan yang kedua bernama Ratu Slebar Alam kedua anakya itu
dibesarkan dibukit Siguntang Mahameru.
Semasa kecil kedua
bersaudara itu sangatlah akrab Skandar Alam sangat menyayangi adiknya sehingga
kedua bersaudrah itu tidak pernah bertengkar semasa menuju remaja kedua putra
Putri gading Cempaka belajar ilmu-ilmu silat kepada ayahnya Ngawak Dewe Gumay setelah
melaksanak latihan silat kedua putranya tadi bertnya “ayahanda mengapa kami
tidak pernah melihat saudara ayahanda dan saudara bunda ? Tanya Skandar Alam “anada
mungkin anada sudah waktunya tahu saudara ayah dan saudara bunda kalian’ maka
berceritalah Putri Gading Cempaka bahwa ibunda mereka memiliki enam saudara mereka
adalah Kelemba api(Raden Cili), Raden Manuk Mincar, Raden Lemang Batu, Raden
Tajuk Rompong, Raden Rindang Papan, Raden Anak Dalam, keenam saudara bunda
dahulu saat bunda meninggalkan kerajan Sungai Serut (Bangkahulu) semuanya ada disanan’.
Mendengar cerita Putri
Gading Cempaka kedua bersaudara itu kini mengetahui asal usul mereka dari
Kerajaan Sungai Serut (Bangkahulu) “nah kalau saudara ayahanada dimana ? tanya
Slebar Alam kepada Ngawak Dewe Gumay “ayah memiliki adik yang bernama Ngawak
Dewe Semidang’ jawab Ngawak Dewe Gumay “lalu kini dimana adik ayahanda itu
tinggal ? Tanya kembali Slebar Alam “ia tinggal di Gunung Dempu (Gunung Dempo
Pagar Alam) dan menurut kabarnya ia telah memiliki keturunan disana’ jawab
Ngawak Dewe Gumay “ayahanda kapan kami dapat berjumpa dengan saudarah di Gunung
Dempu (Dempo Pagar Alam)’ ucap Ratu Slebar Alam “kalau waktunya sudah tiba maka
janji kami berdua akan terwujud sewaktu ayahanda dan adik ku Ngawak Dewe
Semidang akan berpisah di bukit Siguntang kami berjanji “dimana ada keturunan
Gumay disana ada keturunan Semidang dimana ada keturunan Semidang disana ada
keturunan Gumay suatu saat keturunan kami berdua akan hidup saling
berdampingan’tegas Ngawak Dewe Gumay kepada kedua putranya.
Mendengar cerita dari kedua
orang tuanya Ratu Skandar Alam dan Ratu Slebar Alam memahami asal usul
keturunan dari ayah dan bundanya,maka mereka berdua berkata “suatu masa nanti
maka anak keturunan Skedar Alam dan Slebar Alam akan ada yang kembali ketanah
kerajaan Sungai Serut (Bangkahulu)” saat menyaksikan kedua putra meraka
menyampaikan janji mereka dihadapan Putri Gading Cempaka meneteskan air mata
haru akan semboyan kedua putranya mereka terlihat sangat mencintai tanah
kelahiran Putri Gading Cempaka, saat itu juga Putri Gading Cempaka berkata
kepada kedua putranya “anak-anak ku bunda sangat terharu kepada semboyan ananda
berdua, bunda akan mendo’akan semoga suatu saat nanti anak keturunan ku akan
menjadi penerang di tanah Bangkahulu’.
Waktu terus berguli tak terasa kedua
bersaudarah tadi menuju dewasa, maka datanglah Ratu Skandar Alam dan Slebar
Alam menghadap Ngawak Dewe Gumay dan Putri Gading Cempaka (Putri Kembang Dadar)
“ayahanda dan bunda sudihlah kiranya merestui anada untuk pergi merantau
mencari jati diri anada’ ucap Ratu Slebar Alam “ ananda kalau memang ananda
ingin pergi merantau pergiah menuju kerajaan Pantai Cermin (Sumatra
Barat/Pagaruyung) dan pakailah sifat perantau keterunan Gumay’ jawab Ngawak
Dewe Gumay’ “apakah itu ayahanda ? tanya
Ratu Slebar Alam kepada ayahnya, maka menjawablah Ngwak Dewe Gumay dihadapan
kedua putranya “ingatlah wahai keturunan Gumay laksanakan amanah ku ini :
1.
Jangan mengambil
barang yang bukan milik mu
2.
Bila menemukan
barang orang lain kembalikan
3.
Bila dalam
bekerja sama mendapat hasil bagi rata
4.
Bila berkata buktikan
bila berjani tepati ( kate betaruh janji nunggu)
5.
Baik dengan
orang lain bisa membantu maka bantulah
6.
Bila meminjam
atau berhutang kepada orang lain maka kembalikan atau bayar hutang mu.
Inilah amanah ku kepada keturunan Ngawak dewe Gumay”
mendengar amanah ayahnya kedua bersaudara Ratu Skandar Alam dan Slebar Alam
berjanji akan mengamalkan amanah ayahnya.
Sesat kemudian maka Putri
Gading Cempaka berjalan mendekati putranya Ratu Slebar Alam dan berkata “putra
ku Ratu Slebar Alam kalau memang keinginan ananda untuk pergi merantau sudah
menjadi keputusan ananda, bunda akan merestui ananda’ “terima kasih bunda atas
restu bunda kepada ananda’ ucap Ratu Slebar Alam “ananda terimalah keris ini
sebagai pemberian bunda’ ucap Putri Gading Cempaka “keris apa ini bunda mengapa
bentuknya sangat menarik’ jawab Ratu Slebar Alam “perlu ananda ketahui suatu
saat nanti kalau ananda bertemu dengan orang yang memiliki keris seperti ini,
maka orang tersebut adalah saudarah ananda’ ucap Putri Gading Cempaka kepada
Ratu Slebar Alam “ mengapa begitu bunda’ tanya Ratu Slebar Alam “karena keris
ini ada tujuh buah yang sama keris ini bunda dapatkan pada saat bunda dan
keenam saudara bunda selesai berlatih silat, keris ini pemberian ayahanda bunda
Ratu Agung Raja Sungai Serut (Bangkahulu)’ “baiklah bunda keris ini akan ananda
jaga dengan baik dan akan selalu ananda ingat pesan bunda ini’.
Setelah sekian lama
kepergian Ratu Slebar Alam ketanah Pagaruyung Kerajaan Pantai Cermin terdengar
berita kalau Ratu Slebar Alam putra Putri Gading Cempaka dikenal dengan
kesaktianya ia sering membantu penduduk disana yang dalam kesulitanberita itu
juga sampai ketelingan Raja Pantai Cermin,singga Ratu Slebar Alam dipanggil
oleh Raja Kerajaan Pantai Cermin dan dijodohkan dengan putrinya akhirnya Ratu Slebar
Alam menikah dengan seorang putri anak Raja Kerajaan Pantai Cermin yang bernama
Putri Dada Sebelah,di Kerajaan Pantai Cermin telah berkembang dan tumbuh
keturunan dari Putri Gading Cempaka (Bangkahulu) dan Ngawak Dewe Gumay (Gumay),
di Pagaruyung Sumatra Barat inilah awal perkembangan keturunan bangkahulu
sampai saat ini.
Sementara itu Ratu Skandar
Alam yang telah mewarisi semua kesaktian
ilmu-ilmu silat Gumay Ratu Skandar Alam meneruskan kekuasaan di instana
kerajaan Gumay yang bertahta di Siguntang Mahameru, Putri Gading Cempaka selalu
memberikan nasehat dan arahan kepada putranya, Ratu Skandar Alam sangat
menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya itu.
Sampai
dengan keterunan kesembilan dari
pernikahan Ngawak Dewe Gumay dan Putri Gading Cempaka (Putri Kembang Dadar)
kerajaan Gumay dibawah pemerintahan Raden Skandar Alam menjadi kerajaan yang
damai. Kerajaan ini banyak kedatangan pendatang asing baik dari
India,Malaka,Jawa,Daratan Cina dan Madagaskar, sehingga agama islam mulai masuk
diantara mereka ada pedagang,pelaut dan lain-lain, mereka itu akhirnya menjadi
penduduk kerajaan Bukit Siguntang Mahameru.Hal demikian terus terjadi sampai
dengan kejadian laut mulai menyusut hingga terbentuklah sungai-sungai dan
daratan, penyebaran keturuan asli Bangkahulu kini ada dimana-mana seluruh tanah
Sumatra hingga tanah Jawa bahkan keluar negeri.
Selain itu mengingat janji kedua beradik
Ngawak Dewe Semidang dan Ngawak Dewe Gumay yang berbunyi “dimana ada keturunan
Gumay disana ada keturunan Semidang dimana ada keturunan Semidang disana ada
keturunan Gumay suatu saat keturunan kami berdua akan hidup saling
berdampingan’ saat ini ada sebuah kecamatan yang bernama Kecamatan Semidang
Gumay di Kabupaten Kaur Povinsi Bengkulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar